100 Kalori vs 100 Kalori

Ketika kita mulai belajar tentang diet, pertama-tama pasti banyak yang menjelaskan bahwa diet adalah mengatur pola makan, bukan berarti tidak makan atau makan sehari sekali saja. Kemudian selanjutnya adalah pengetahuan dasar bahwa kalau mau menurunkan berat badan, satu satunya cara adalah membuat kondisi bahwa kalori yang masuk lebih kecil jumlahnya daripada kalori yang keluar. Benarkah seperti itu ? Ternyata jawabannya adalah BELUM TENTU dan bahkan bisa MENAMBAH BERAT BADAN!

Berat badan turun kalau kalori keluar lebih banyak daripada kalori yang masuk? Coba kita lihat contoh lain. Bulu seberat 1 ons dan batu yang juga seberat 1 ons, dijatuhkan bersamaan di dalam ruang hampa udara. Manakah yang akan mencapai bawah terlebih dahulu? Pasti keduanya mencapai bawah bersamaan karena beratnya sama. Tetapi coba kita lakukan percobaan yang sama tetapi kali ini tidak di dalam ruang hampa tetapi dijatuhkan dari salah satu gedung di Kuningan, Jakarta. Dengan berat yg sama, manakah yang akan mencapai tanah terlebih dahulu? Tentunya batu kan?

Kenapa batu bisa jatuh terlebih dahulu itu dikarenakan ada yang dinamakan “AIR RESISTANCE” dimana udara bisa menahan laju jatuhnya batu ke tanah. Sekarang kembali lagi masalah kalori, memang kalau diuji di lab, semua kalori adalah kalori dan apabila kalori yang keluar lebih besar daripada kalori yang masuk maka hasilnya adalah penurunan berat badan. Hal ini sama seperti uji coba yang kita lakukan di dalam ruang hampa udara tadi. Tidak ada faktor-faktor lain dalam percobaan di dalam lab. Tetapi ketika kalori yang berbentuk makanan itu kita uji coba di dalam tubuh kita, metabolisme kita akan dipengaruhi banyak sekali faktor yang tidak terlihat oleh mata seperti udara dalam kasus bulu dan batu tadi.

Tubuh kita membakar kalori secara konsisten terus menerus setiap saat, bahkan ketika kita tidur sekalipun. Karena itu, memasukkan kalori dengan cepat ke dalam tubuh dalam waktu yang singkat akan membuat jumlah kalori dalam tubuh melonjak berlebihan dan akan dipakai seperlunya, kelebihannya akan disimpan menjadi lemak. Sebagai contoh, kita minum soda dengan jumlah 100 kalori, akan memberikan suntikan kalori dengan cepat ke dalam tubuh karena soda mengandung karbohidrat simple yang sangat mudah diserap oleh tubuh. Tetapi kita bandingan dengan mengkonsumsi ubi dengan jumlah kalori yang sama yaitu 100 kalori, tetapi merupakan karbohidrat kompleks, yang membutuhkan proses penyerapan lebih lama, maka tubuh akan menyerap kalori dari ubi tersebut secara perlahan-lahan sehingga tidak ada lonjakan kelebihan kalori dalam tubuh dan tidak ada yang diubah menjadi lemak.

Dari sini kita bisa simpulkan, bahwa yang terpenting dalam diet bukanlah jumlah kalori melainkan jenis kalori itu. Tidak semua kalori dibuat sama. Dalam laboratorium, kalori adalah kalori, tetapi tubuh kita adalah mesin dengan instruksi yang berbeda dan akan memproses kalori dari jenis makanan yang berbeda dengan cara yang berbeda pula.
Karena itu perhatikanlah JENIS kalori yang Anda konsumsi!

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes