Bulking Tempo Dulu vs Sekarang

Dari 2 minggu lalu saya sudah pengen banget nulis artikel ini, tetapi karena kesibukan event di Bali, dilanjutkan kesibukan Event Ultimate Bodybuilding Championship di Taman Mini Jakarta, akhirnya tulisan ini jadi tertunda.

Obrolan ini terjadi saat saya bersama keluarga sedang sarapan di warung wardani, denpasar bersama Ade Rai. Kita membahas masalah bulking yang dilakukan orang jaman dulu. Bulking diasosiasikan dengan off season, yang mana orang tidak peduli dengan badan kita, yang penting kita makan sebanyak mungkin untuk menaikkan berat badan. Goalnya adalah nanti setelah cukup terbentuk, maka lemaknya dibuang di cutting phase.

Pada saat bulking, makan apa saja dihalalkan. Bahkan saya pernah ketemu orang yang makan ice cream, mac donald, etc dan ketika saya tanya, mereka bilang ‘kan saya lagi bulking’. Dalam kasus bulking semua orang memasukkan apa saja yang bisa mereka masukkan ke mulut mereka. Hasilnya? Ketika bulking, berat badan akan naik drastis, badan keliatan besar.

Itulah pemikiran Bulking Tempo Dulu:)

Lalu bagaimana dengan bulking jaman sekarang? Sebenarnya tidak ada perbedaan tempo dulu atau sekarang, melainkan yang harus diperhatikan adalah konsep bulking itu sendiri. Bulking adalah suatu proses dimana kita mau menaikkan massa otot kita (bukan berat badan kita). Menurut Ade, yang penting adalah LBM (Lean Body Mass) tubuh kita. Dia pernah experiment, dengan cara membandingkan LBM di berat badan dia sewaktu 90kg dengan berat badan dia yang dinaikkan menjadi 105kg.

Ternyata LBM-nya sama! Berat badan naik 15kg, tetapi jumlah massa ototnya sama. Itu berarti bulkingnya tidak ada artinya, karena bulking yang sebenarnya adalah menaikkan jumlah massa otot.

Nah sekarang bagaimana caranya untuk melihat apakah bulking kita berhasil? Apakah kita sudah menaikkan jumlah otot?

Caranya adalah dengan mengukur kadar lemak tubuh kita sebelum dan sesudah bulking. Gunakan Fat Monitor untuk mengukurnya. Fat Monitor tidak hanya digunakan untuk mengukur kadar lemak sewaktu kita cutting atau fat loss diet, tetapi juga bisa digunakan sewaktu bulking. Anda ukur berat badan sekarang dikurangi jumlah lemak.

Misalnya, berat Anda 60kg, Fat 15% (60×15% = 9kg fat). Maka LBM atau Lean Body Mass Anda tanpa lemak adalah 60kg – 9kg = 51kg. Nah tujuan bulking adalah menaikkan Anda ini.

Dan setelah Anda bulking sebulan, berat Anda naik menjadi 65kg, dan Fat Anda naik menjadi 21% (65×21% = 13.65kg fat). Maka LBM Anda adalah 65kg – 13.65kg = 51.35kg.

Dari dua kondisi diatas, Anda liat, berat Anda naik 5kg, keliatannya adalah hal yang fantastis kan? Buat orang yang susah naikin berat, kemudian mengikuti program bulking, naik 5kg dalam sebulan, dan sudah sangat senang. Padahal setelah di cek, ototnya cuma naik 0.35kg dalam sebulan. sedangkan lemaknya? dari 9kg naik menjadi 13.65kg, lemaknya naik 4.65kg!

Nanti pada saat cutting, lemak ini harus dibuang lagi. Berarti usaha bulking kita membuahkan sesuatu yang harus dibuang lagi, benar-benar buang tenaga, waktu dan uang kan? Makanya saya selalu sedih ketika mendengar seseorang mengatakan, setelah minum gainer, beratnya naik 5kg dalam sebulan. Dalam hati saya pikir, dia tidak tahu apa itu yang naik, lemak atau otot? Seharusnya sebelum bilang naik 5kg dan begitu happy, dia harus mengukurnya terlebih dahulu.

Tetapi kemarin ada juga yang menggunakan Isomass Extreme Gainer (gainer terbaik ultimate saat ini), ada yang complain bilangnya, koq berat badan saya naik cuman sedikit sih? Naik sedikit seperti ini juga saya sedih mendengarnya, karena alasan yang sama, orang itu tidak tahu apa yang naik dari tubuhnya. Isomass tidak menaikkan lemak tetapi hanya otot (dengan aturan yang benar). Dan naiknya otot memang sedikit. Kalau naik lemak memang bisa banyak. Kalau naik otot bisa 5kg sebulan, apa jadinya badan kita dalam 1th? Akan jadi banyak bodybuilder freak di Indonesia ?:)

Semoga tulisan saya ini membuka wawasan kita mengenai bulking yang benar.

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes