Pengaruh Metabolisme terhadap Pembakaran Lemak

METABOLISME – kita sering sekali mendengarkan kata-kata ini ketika membahas hal-hal yang berhubungan dengan berat badan. Yang gendut kita bilang, ‘wah metabolismenya lambat / pelan’, sedangkan yang kurus kita bilang, ‘wah enak banget metabolisme kamu cepat, jadi tidak bisa gemuk meskipun makan apa aja’. Memang faktor genetik menentukan seberapa cepat metabolisme kita, tetapi tahukah kita bahwa metabolisme kita bisa berubah-ubah? Bahkan kita bisa memprogram kecepatan metabolisme kita?


Yang sering dianggap sebagai metabolisme sebenarnya adalah BMR yaitu singkatan dari Basal Metabolic Rate. BMR adalah jumlah energy yang dibutuhkan tubuh kita hanya untuk hidup, tanpa melakukan kegiatan apa-apa, ketika kita dalam posisi berbaring, dan perut kita juga sedang tidak mencerna. BMR akan semakin berkurang seiring dengan usia kita.

Rumus BMR yang sering digunakan adalah sebagai berikut:

Laki2: BMR = 66 + (13.7 x berat kg) + (5 x tinggi cm) – (6.8 x umur th)
Perempuan: BMR = 655 + (9.6 x berat kg) + (1.8 x tinggi cm) – (4.7 x umur th)

Kalau kita melakukan kegiatan selain berbaring seperti yang disebutkan di atas, BMR dikali dengan angka dibawah ini:

Inactive, Little or no exercise, desk job — Laki2: 1.4, Perempuan: 1.4
Light, Some light daily exercise — Laki2: 1.5, Perempuan: 1.5
Moderate, Regular aerobic exercise — Laki2: 1.78, Perempuan: 1.64
Heavy, Energy-intensive job or serious athlete — Laki2: 2.1, Perempuan: 1.82

Contoh: Sri, Perempuan, berat 70kg, tinggi 167cm, umur 28, aktivitas moderate
BMR = 655 + 672 + 300 – 131 = 1496
Kebutuhan energy = BMR x 1.64 = 2453.

Setelah kita bisa menghitung kebutuhan kalori kita sehari-hari, kita jadi tahu bahwa tubuh kita membutuhkan x kalori untuk bertahan hidup dan melakukan kegiatannya sehari-hari. Tetapi hal ini sering disalahartikan oleh kebanyakan orang.

Kebanyakan orang berpikir (atau kalau saya boleh bilang, SEMUA ORANG berpikir), kalau saya makan segini banyak aja gendut, berarti saya harus harus mengurangi makan. Mengurangi makan bisa kurus, berarti semakin sedikit saya makan, saya bisa lebih cepat kurus. Dari pemikiran tersebut, hampir semua orang, berusaha makan sehari cuma sekali atau dua kali saja demi mempertahankan rumus dokter pribadinya yang katanya kalau ‘kalori yang masuk lebih kecil daripada kalori yang keluar maka kamu akan kurus’.

Beberapa orang dengan semangat baja bahkan berhasil makan sesedikit mungkin, dan menambah jumlah olahraganya, supaya kalori yang masuk ke tubuh bisa lebih kecil lagi. Berhasilkah mereka menurunkan berat badan? Ternyata tidak ada yang berhasil. Mungkin satu atau dua orang berhasil, tetapi ketika mereka berhenti diet, dan kembali makan normal, berat badan mereka langsung naik kembali ke titik awal bahkan lebih berat lagi.

Memang benar, seperti contoh di atas, bahwa kebutuhan energy Sri adalah 2453 kalori, kalau dia diet sehingga kalori yang masuk cuman 1000 sehari, pemikiran kita adalah dia sudah menepati rumus dokternya yaitu kalori masuk (1000) < kalori keluar (2453). Tetapi yang lepas dari perhatian Sri adalah, ketika dia mengurangi jumlah kalorinya sedemikian drastis, BMR tubuh yang sebesar 2453 tersebut berubah juga menjadi LEBIH KECIL.

Kita tidak bisa menghitung berapa lebih kecilnya, tetapi tubuh hanya mengerti 1 hal, yaitu si pemilik tubuh dalam keadaan bahaya, kurang makan, dan mungkin saja sedang terdampar di tengah laut tanpa makanan sambil menunggu regu penyelamat datang. Kita tentunya sering mendengar bahwa korban gempa bumi, terkubur reruntuha selama 5 hari tidak makan dan masih bisa diselamatkan dan tetap hidup. Bayangkan saja kalau selama 5 hari tanpa makanan sama sekali, sedangkan BMR dia tetap 2453, tentunya 2 hari saja sudah mati kelaparan dan kehabisan lemak sebelum sempat diselamatkan. Tetapi tubuh kita adalah mesin yang sangat canggih, ketika kita mengkonsumsi kalori yang dibawah standard, tubuh akan masuk ke mode BERTAHAN HIDUP atau mode DALAM BAHAYA. Sehingga angka 2453 tadi akan diturunkan untuk menghemat cadangan energy dalam tubuh. Dan fatalnya adalah ketika tubuh dalam kondisi seperti ini, makanan apapun yang masuk, akan disimpan menjadi lemak karena tubuh takut tidak tahu kapan ada makanan lagi. Tubuh melakukan penghematan energy, seperti kita kalau job lagi seret, tentunya akan melakukan penghematan uang, karena tidak tahu kapan kita akan mendapatkan uang lagi.

Tubuh kita memang canggih tetapi tetap tidak bisa membedakan, kalori rendah yang kita konsumsi itu apakah kita sedang dalam diet dengan tujuan menurunkan berat badan, ataukah kalori rendah itu berarti kita sedang dalam bahaya atau terdampar di suatu tempat tanpa makanan.

Solusi untuk menurunkan berat badan adalah mengurangi kalori sebesar 500 kalori saja per harinya. Bisa dengan cara mengurangi makan sebesar 500 kalori saja, atau makan dengan jumlah yang sama tetapi menambah olahraga dengan pembakaran sebesar 500 kalori. Atau bisa dengan mengkombinasi keduanya, misalnya diet mengurangi 300 kalori makanan, dan olahraga membakar kalori sebesar 300 kalori. Jangan salah langkah dengan mengurangi makanan sebesar 500 kalori dan berolahraga juga sebesar 500 kalori karena totalnya akan menjadi kekurangan sebesar 1000 kalori. Dan hal itu sekali lagi akan menurunkan BMR kita.
Yang kedua adalah untuk memprogram BMR supaya tetap tinggi, kita harus makan sesering mungkin, dan yang disarankan adalah 5-6x makan terbagi atas 3 makan utama dan 2-3x snack.

Makan 6x dengan jumlah kalori yang dihitung, misalkan kita mau diet sebesar 2000 kalori, maka bukan berarti kita makan full 6x penuh seperti makan biasa, tetapi bagilah jatah 2000 kalori itu menjadi 6x.

Secara kasar bisa disimpulkan kalau kebutuhan energy sehari Sri sebesar 2453, tetapi misalnya, karena dia makan terlalu sedikit, sehingga kalori yang masuk cuma sebesar 1000 kalori saja (padahal diet yang benar seharusnya cuma mengurangi sekitar 500 saja), maka rumusnya akan menjadi 2453-500 = 1953. kebutuhan energy 1953 sedangkan makanan yang masuk cuma 1000. Maka defisit sebesar 953 kalori ini lah yang berbahaya. Ketika defisit ini terjadi, tubuh akan berusaha mengembalikan defisit ini dan inilah yang akhirnya menjadi efek yo-yo diet. Yaitu setelah turun drastis dan tidak lama kemudian berat badan akan kembali naik dengan cepat.

Semoga artikel ini bisa membuka wawasan kita dan mulai mengatur pola makan kita sehingga pembakaran kalori di tubuh kita terjadi secara maksimal. Good luck.

 

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes