Turun Berat Badan dengan Diet Detoks. Amankah?

Dari sekian metode diet yang Anda kenal, Anda pasti pernah mendengar istilah diet detoks. Saat ini masih banyak orang yang menjalankan metode diet detoks. Mereka beralasan bahwa metode diet ini cukup ampuh untuk menurunkan berat badan. Benarkah demikian?

Turun-Berat-Badan-dengan-Diet-Detoks.-Amankah

Apa sih yang disebut Diet Detoks?

Diet detoks berasal dari kata ‘detoksifikasi’ yang berarti penghilang racun. Di awal kemunculannya diet detoks merupakan metode diet yang ditujukan untuk menyingkirkan racun-racun dalam tubuh, dengan hanya mengonsumsi air putih, buah-buahan, dan sayuran. Namun seiring perkembangannya, diet detoks beralih fungsi menjadi metode diet pilihan untuk menurunkan berat badan dengan cepat, sehingga banyak yang mulai menggunakan metode diet ini tanpa berpikir lebih dalam tentang dampaknya bagi kesehatan.

Diet Detoks di Mata para Ahli

Hingga kini diet detoks masih menjadi kontroversi di kalangan para ahli. Menurut Frank Sacks, pakar epidemiologi dari Harvard School of Public Health menyebutkan bahwa sebenarnya tubuh kita tidak membutuhkan bantuan untuk membersihkan diri dari racun. “Ada organ-organ yang berfungsi untuk itu, misalnya ginjal dan liver, juga sistem imun tubuh yang akan mengusir toksin,” katanya.

Bahkan ada satu percobaan dengan membandingkan dua orang, yang pertama diet biasa, dan yang kedua melakukan diet detoks, dan kemudian setelah beberapa hari, diamati terus, kotoran pada saat buang air besar maupun buang air kecil apakah mengandung racun atau logam-logam tertentu. Ternyata hasil dari detoks sama saja dengan yang tidak melakukan detoks. Jadi tidak ada perbedaan apapun. Dalam hal ini detoks disimpulkan tidak berguna karena tubuh sudah mempunyai cara detoks sendiri.

Lantas mengapa ada orang yang berhasil menurunkan berat badan dengan diet detoks? Seorang pakar nutrisi dari The Academy of Nutrition and Dietetics, Connie Diekman, mengatakan bahwa keberhasilan seseorang menurunkan berat badan dengan diet detoks karena minimnya asupan kalori yang didapat.

“Jika asupan kalori berkurang drastis bahkan ekstrim, tentu berat badan akan ikut berkurang. Namun masalah lain bisa saja muncul seperti hilangnya massa otot dan kesehatan yang kian menurun.” papar Connie.

Connie juga menambahkan, penurunan berat badan yang terlalu ekstrim biasanya berakibat pada berkurangnnya cairan tubuh, bukan lemak!. Jadi saat seseorang kembali ke pola makan normal setelah melakukan diet detoks, kecenderungan berat badannya bertambah akan lebih tinggi karena metabolismenya melambat.

Kekurangan nutrisi juga akan dialami oleh pelaku diet detoks. Mengingat ia hanya mengonsumsi air dan buah-buahan. Gejala seperti cepat lelah, kekurangan energi, nyeri otot, mual, pusing dan bahkan muntah akan menjadi akrab bagi pelaku diet ini.

Satu hal yang disetujui oleh para nutrisionis dalam diet detoks ini yaitu bahwa dalam diet ini, Anda harus mengkonsumsi cairan, buah, dan sayuran dalam jumlah yang cukup. Karena kebanyakan orang kurang menyadari pentingnya air, buah, dan sayuran. Diet detoks bisa menjadi sarana bagi Anda untuk memenuhi kebutuhannya.

Namun, para ahli menyatakan bahwa metode diet ini tidak efektif untuk jangka panjang, apalagi dengan hasil yang sebentar saja. Dalam jangka panjang, diet ini juga beresiko buruk bagi kesehatan karena mengganggu elektrolit dan keseimbangan cairan tubuh.

Apakah Anda perlu Diet Detoks?

Ringkasnya, banyak ahli gizi dan kesehatan yang menyarankan agar diet detoks tidak dijadikan pilihan utama jika ingin menurunkan berat badan. Mengingat masih banyak metode diet lain yang lebih sehat dan aman untuk dilakukan.

Jadi apakah sebaiknya Anda menggunakan diet detoks untuk menurunkan berat badan? Sebaiknya tidak, karena diet detoks seperti namanya tidak ditujukan untuk menurunkan berat badan. Masih ada cara-cara lain yang lebih sehat untuk menurunkan berat badan Anda. (dan)

BACA JUGA : Gagal Diet? Mungkin 4 Hal Ini Penyebabnya!

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes