BODYBUILDING: A Thin Line between Dedication and Ignorance

Topik ini saya angkat setelah percakapan dengan Denny Santoso mengenai beberapa atlet bodybuilding dunia, dan termasuk Indonesia, yang meninggal dalam usia muda. Beberapa dari mereka bahkan meninggal setelah selesai mengikuti kompetisi profesional. Bisa jadi topik ini memicu perdebatan, namun kami berdua setuju bahwa masyarakat dan komunitas bodybuilder harus mengerti mengenai bahaya yang dapat dan sudah terjadi dari olahraga ini serta bagaimana menghindarinya.

Sebelum saya masuk dalam pembahasan, saya ingin tanyakan dulu apa tujuan Anda menjalani aktifitas fitness. Apakah untuk mendapat badan yang sehat, badan yang atletis atau secara ekstrem murni muscle minded?

Seperti kita ketahui bersama bahwa seorang bodybuilder menjalani hidup jauh di luar kewajaran manusia biasa. Coba bayangkan, berapa puluh butir telur dan berapa kilogram daging ayam atau sapi yang dikonsumsi setiap hari, belum lagi sejumlah suplemen yang dipakai dengan takaran jauh di atas jumlah yang disarankan, hal ini tentu mempunyai efek yang berarti bagi tubuh.

Berikut saya coba bahas secara sistematis apa saja bahaya dalam persiapan kompetisi binaraga.

  1. Segi latihan
    Latihan yang terlalu ekstrem hingga 4-6 jam sehari akan menimbulkan masalah antara lain: pembesaran jantung/kardiomegali, overtraining syndrome, cedera pada sendi dan otot.
  2. Segi diet
    Seperti yang saya tulis di atas, bahwa diet pada atlet binaraga adalah diet yang ekstrem. Protein yang sangat tinggi dan karbohidrat serta lemak yang sangat rendah. Apa bahaya dari diet seperti ini? Karena asupan karbohidrat yang sangat rendah, maka tubuh akan menggunakan cadangan lemak dan protein sebagai sumber energi untuk mempertahankan kerja organ seperti jantung, otak, dan lain-lain. Kondisi ini akan mengakibatkan darah menjadi asam dengan kadar keton yang tinggi.

    Otak manusia adalah organ yang murni bergantung pada karbohidrat untuk mempertahankan fungsinya. Kadar keton yang tinggi dan karbohidrat rendah akan menimbulkan gangguan dalam kerja otak. Darah manusia yang menjadi asam dapat mengakibatkan kerja seluruh sistem enzimatik dalam tubuh.

    Menjelang kompetisi, atlet juga menahan konsumsi air bahkan tidak minum air sama sekali 1-2 hari menjelang tampil. Dehidrasi seperti ini yang terjadi berulang tentu dapat merusak kerja ginjal (dan suplemen yang menjadi kambing hitam untuk kerusakan ginjal).
    Asupan nutrisi yang tidak seimbang juga mengakibatkan gangguan keseimbangan elektrolit darah seperti natrium, kalium, calcium dan magnesium.

  3. Obat-obatan
    Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak atlet binaraga yang menggunakan obat untuk menghasilkan postur dan “ukiran” otot yang jelas. Saya akan bahas beberapa obat yang sering dipakai.
    Diuretik: Obat ini dipakai untuk mengeluarkan paksa urin untuk mendapatkan postur badan yang lebih kering. Penggunaan diuretik akan mengakibatkan dehidrasi dan gangguan elektrolit seperti hipokalemia atau kadar kalium yang rendah. Hipokalemia sendiri akan menimbulkan kelemahan otot termasuk otot pernafasan.
    Insulin: Beberapa atlet menggunakan insulin untuk mendapatkan efek growth factor. Risiko yang terjadi adalah penurunan gula darah secara cepat sehingga dapat menimbulkan kejang dan kematian.
    Steroid: Obat ini memang selalu menjadi kontoversi. Banyak laporan yang mengaitkan steroid dengan kerusakan tubuh JANGKA PANJANG. Saya sengaja tulis secara kapital untuk menekankan bahwa steroid tidak berbahaya untuk jangka pendek, tapi efek jangka panjanglah yang berbahaya. Steroid berhubungan dengan kerusakan jantung, liver, ginjal serta berhubungan dengan peningkatan kejadian kanker.
    Synthol: Synthol adalah semacam suspensi lemak yang disuntikkan dalam otot untuk meningkatkan ukurannya. Memang ini lebih mirip operasi implan silikon.

Saya tuliskan beberapa contoh kasus kematian atlet binaraga yang saya dapatkan dari referensi Ironman Magazine:

  • 1988. Albert Beckles. Pingsan dan kejang saat tampil akibat diuretik dan dehidrasi
  • 1991. Andy Rody. Pingsan dan meninggal saat tampil di panggung karena dehidrasi
  • 1992. M Benaziza meninggal setelah tampil di Eropa. Autopsi menunjukkan adanya gagal jantung dan dehidrasi pada usia 33 tahun
  • 2007. J Baglio meninggal karena gagal jantung. Dalam kasus ini dokter M Lucente juga diseret ke pengadilan karena memberikan suntikan steroid dan growth hormone dalam dosis tinggi. Autopsi menunjukkan kerusakan masif organ dalam karena steroid.

Jadi, apa yang harus dilakukan oleh para atlet binaraga untuk mempersiapkan kompetisi secara aman?

  1. Konsumsi air tetap harus dilakukan hingga maksimal 12-14 jam sebelum pertandingan. Periode ini saya ambil dengan anggapan bahwa orang berpuasa tidak minum selama 12-14 jam.
  2. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk pemantauan.
    a. Selama latihan, lakukanlah medical check up secara rutin untuk memantau kondisi jantung, liver dan ginjal.
    b. Pemeriksaan kadar elektrolit darah selama persiapan kompetisi. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, kadar elektrolit sering mengalami gangguan karena dehidrasi dan penggunaan diuretik.
  3. Ingat bahwa tubuh Anda pasti memberikan sinyal bahaya bila Anda terlalu memeras fungsi dan kerja nya secara berlebihan. Seperti jantung berdebar atau pandangan kabur, sesak nafas bahkan penurunan kesadaran. Segera periksakan diri Anda pada dokter bila mengalami gejala-gejala tersebut.

Memang perdebatan selalu muncul mengenai bahaya yang menyertai persiapan kompetisi binarga. Artikel ini dibuat untuk memberikan masukan serta pengertian dari bahaya tersebut.

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes