Elderly Exercise – Latihan Sesuai Kondisi Medis Tertentu, Bagian II

Pemilihan olahraga yang tepat bagi lansia sebenarnya bersifat individual karena harus disesuaikan dengan kondisi fisik masing masing individu dan kebiasaan berlatih sebelumnya.

Bentuk latihan aerobik adalah bentuk yang paling aman bagi lansia secara umum. Latihan aerobik meliputi lari ringan ataupun jalan cepat, berenang, senam seperti tai-chi, maupun yoga. Dengan frekuensi 3-4 kali seminggu selama 30 menit tiap kalinya akan memberikan manfaat yang sangat baik bagi kesehatan lansia.

Bagi penderita DM (Diabetes Mellitus), latihan aerobik merupakan bentuk latihan utama yang sangat bermanfaat bagi pengendalian gula darah. Olah raga yang dianjurkan adalah lari ringan selama minimal 30 menit 4 kali seminggu dengan target denyut jantung 60% denyut maksimal. Latihan beban merupakan latihan tambahan yang dapat meningkatkan efektifitas pengendalian gula darah. Namun perlu diingat bahwa penderita DM sering disertai komplikasi lain seperti penyakit jantung, darah tinggi sehingga latihan beban lebih baik diawasi oleh seorang personal trainer yang mengerti tentang kondisi medis tersebut.

Lansia dengan penyakit jantung koroner maupun gagal jantung , sangat tidak disarankan untuk latihan beban maupun latihan yang menggunakan gerakan mendadak seperti tennis, badminton, atau high impact aerobic. Hal ini disebabkan perubahan mendadak dalam gerakan latihan akan memacu jantung untuk menyesuaikan diri dengan meningkatkan denyut secara cepat. Pada lansia dengan gangguan koroner maupun gagal jantung, hal ini dapat mengakibatkan henti jantung mendadak dan kematian. Olah raga bagi penderita jantung adalah olah raga yang bersifat kontinyu dan ditingkatkan secara progresif seperti berenang, jogging selama 10 menit dan sebanyak 2-4 kali seminggu yang kemudian ditingkatkan hingga 30 menit tiap sesi latihan.

Penderita osteoporosis akan mendapat manfaat yang sangat baik dengan latihan beban sedang. Penggunaan beban dalam latihan akan mempertahankan kekuatan otot dan meningkatkan densitas masa tulang sebagai mekanisme kompensasi terhadap beban tersebut. Namun perlu diperhatikan derajat kerusakan tulang yang sudah terjadi sebelumnya karena latihan beban yang salah dapat berisiko patah tulang pada penderita pengeroposan tulang yang sudah berat. Perlu juga dicukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D bagi lansia.

Penderita stroke juga akan mendapat banyak manfaat dengan latihan beban. Stroke pada umumnya akan mengakibatkan kelumpuhan otot satu sisi tubuh. Bila otot yang sudah lumpuh ini tidak dilatih maka akan terjadi pengecilan dan semakin lama akan menjadi permanen. Sisi tubuh yang lumpuh pada awalnya harus dilatih secara pasif (digerakkan oleh orang lain) namun secara perlahan harus terus dilatih secara aktif. Pada beberapa orang dengan stroke yang ringan hingga sedang, kelumpuhan yang terjadi akan tidak nampak lagi dengan latihan intensif selama beberapa bulan.

Bagaimana dengan penderita darah tinggi? Untuk yang satu ini, saya harus mengatakan bahwa aerobik masih merupakan latihan terbaik dibanding latihan beban. Penderita hipertensi dengan tekanan darah diatas 150/90 mmHg juga memiliki risiko dalam latihan beban seperti pecahnya pembuluh darah di mata, ataupun di otak yang mengakibatkan stroke.

Bentuk latihan sesuai kondisi medis diatas adalah merupakan bentuk umum yang dapat anda lakukan, perlu diingat juga bahwa sering beberapa penyakit terjadi pada orang yang sama sehingga perlu penyesuaian lebih lanjut. Namun apapun juga, latihan fisik akan selalu memberikan hasil yang baik dibandingkan tidak berlatih sama sekali.

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes