Rambut Rontok Setelah Ikut Fitnes

Kemarin ketika saya sedang berada di gym saya, Atlas Malang untuk acara pemotretan salah satu atlit Ultimate, Cornelis Amo, ada seorang Personal Trainer Ultimate yang sedang bersama clientnya. Setelah selesai memberikan instruksi kepada team foto, saya sempatkan mendekat ke seorang ibu yang sedang berlatih bersama PTnya tadi. Ada satu kejanggalan di mata saya, ketika melihat ibu tersebut melakukan bench press di mesin dengan hitungan yang sangat banyak. Saya pikir, apa saya yang salah teori bahwa reps harus pendek. Saya tanya ke PT nya, ’emang berapa reps sih tadi?’ PT tersebut mengatakan, sekitar 20 reps. Saya pikir, wah, ini jumlah yang sangat banyak untuk 1 set. Saya kembali nanya, ‘apa ga terlalu banyak tuh? Bebannya ga terlalu ringan?’

Si PT tersebut langsung bilang bahwa ibu tadi memang susah sekali kalau diberitahu. Dalam hati saya berpikir, buat apa pakai Personal Trainer kalau semua set dan repetisinya diatur sendiri. Tapi ya udah lah, dan si PT juga bercerita bahwa ibu ini katanya tidak mau besar seperti cowok, dan sangat ga mau minum yang namanya suplemen, terutama whey protein. Takut besar. Si ibu yang mendengar saya ngobrol bersama PTnya, langsung ikutan ngobrol, dan mengatakan bahwa dia gampang sekali berotot, sambil menunjukkan tangannya dan menunjukkan ke ‘otot-ototnya’. Saya sambil ketawa bilang, ‘bu, itu bukan otot, tapi urat, jangan disamain’. Dia bilang dulu sebelum fitness ini ga keliatan, sekarang semakin keliatan meskipun masih samar-samar. Sekali lagi saya bilang ‘kalau otot sudah mulai keliatan itu berarti lemaknya sudah semakin tipis’.

Ibu tadi terus bercerita tentang ketakutannya dia menjadi berotot, kemudian ketakutan memakai whey protein. Kemudian saya jadi penasaran dan tertantang pengen coba mendebat. Saya membenarkan beberapa argumen ibu tadi yang kebetulan masuk di akal, dan saya jelaskan bahwa background saya juga sebagai konsultan diet, nutrisi dan fitness. Kemudian saya nanya, ‘bu, biasanya nih, yang kekurangan protein, tanda-tanda awalnya tuh rambut mulai rontok lho, gimana dengan ibu?’ Ibu tersebut kaget sambil menjawab, ‘iya lho, ini dah rontok banget, dah tinggal seperempat, dah ke dokter mana-mana, dah ke salon mana-mana tapi masih rontok, saya juga ga ngerti kenapa bisa rontok, karena saya juga tidak makan apa-apa yang aneh-aneh yang kira-kira bikin rambut rontok lho’.

Kena deh pikir saya, saya jelasin aja tentang konsep bahwa kalau kita kekurangan protein, maka organ-organ tubuh kita mulai tidak bisa diperbaiki secara sempurna, dan yang tampak langsung adalah rambut mulai rontok. Saya jelaskan juga mengenai kebutuhan protein, dan berapa yang selama ini dia makan masih tidak mencukupi. Dan setelah ngobrol beberapa saat, ibu itu juga mengatakan bahwa rambutnya rontok, setelah dia mulai ikut fitness. Dia mengatakan bahwa makanannya tetap, dan tidak berubah, tapi rambutnya jadi rontok. Hal ini sangat jelas membuktikan bahwa ketika dia melakukan fitness, kebutuhan protein langsung meningkat, sehingga yang biasanya cukup untuk memperbaiki sel-sel rambut, sekarang jadi kurang karena dipakai untuk memperbaiki sel-sel ototnya.

Di akhir pembicaraan, akhirnya ibu yang anti suplemen tersebut mau mencoba membeli whey protein. Saya juga mengatakan, coba dulu aja, 1 minggu dulu, sehari minum 2x, setelah latihan sekali untuk perbaikan ototnya, dan sebelum tidur sekali lagi untuk perbaikan sel-sel tubuh yang lain ketika tidur. Kalau 1 minggu jadi ga rontok, protein boleh diteruskan. Dengan saya sebut timeframe 1 minggu tersebut, ibu itu keliatan menjadi lebih tenang. Saya juga mengatakan kalau 1 minggu pakai whey, otot juga tidak bakal bisa menjadi besar kayak cowok koq, sambil menenangkan beliau :P

Kalau dilihat seperti ini, betapa kita semua melihat bahwa pengetahuan nutrisi di sekitar kita sangat dangkal. Masih sangat perlu untuk memberikan informasi-informasi yang tepat. Padahal pada waktu kita bayi, kita juga minum suplemen berupa susu bayi, kenapa tidak ada yang complain ? :)

 

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes