vaping

Suka Vaping? Pertimbangkan 8 Dampak Ini Pada Tubuh Kamu

Ada yang bilang vaping itu lebih baik daripada merokok biasa. Apakah benar seperti itu?

Bila kamu memang suka vaping, kemungkinan besar kamu memang perokok sebelumnya dan mencoba mengurangi kebiasaan merokok dengan vape.
Apa bedanya dengan rokok elektrik? Sebenarnya, rokok elektrik ini memeiliki tiga elemen. Yaitu pemanas logam, baterai, dan katrid.

Pemanas logam ini sering disebut dengan vaporizer atau lebih populer dengan kata vape. Sementara katrid berisi cairan kimia.

Kenapa berubah ke vape?

Ada beberapa hal yang mungkin sering kamu dengar, diantaranya tidak terlalu merusak paru-paru, mengurangi kecanduan nikotin, atau bahkan mampu menghentikan kebiasaan merokok.

Jangan langsung percaya dan berikut ini beberapa hal yang mesti kalian ketahui mengenai vape dan dampaknya pada tubuh kamu.

1. Karsinogen pada paru-paru lebih sedikit ketimbang rokok

Mengganti kebiasaan merokok menjadi vape dapat mengurangi paparan toksin dan karsinogen pada paru-paru. Ini seperti yang disampaikan The Journal of the American Medical Association (JAMA) tahun 2018 lalu.

‘Ada lebih dari 7000 bahan kimia dalam rokok, termasuk lusinan karsinogen,” kata Jonathan Foulds, profesor ilmu kesehatan masyarakat yang mempelajari rokok dan produk tembakau dari Penn State University.

Asap yang keluar dari vape tidak berbahaya, tetapi masih mengandung sekitar 10-20 bahan kimia. Tentu ini jauh berbeda dengan bahan kimia yang ada pada rokok.

Akan tetapi, ada yang perlu kamu perhatikan. Bila terus menggunakan vape, hal ini berarti akan lebih banyak bahan kimia yang masuk dalam tubuh kamu. Tentu saja ini akan berdampak sendiri pada kesehatan tubuh kamu.

Kenapa? Karena ketika vape kering, terus mengepul di bagian bawah katrid hingga tidak ada cairan yang tersisa, maka ini menciptakan jumlah racun yang lebih tinggi.

Walaupun karsinogen lebih sedikit, namun bukan berarti bebas dari bahaya.

2. Tentu saja, vaping tetap akan melukai paru-paru kamu

Ulasan penelitian tahun lalu dalam Annual Review of Public Health, ditemukan meskipun bahan kimia lebih rendah daripada rokok tradisional, namun jenis elektroniknya (liquid) masih membuat kamu terpapar partikel ultrafine dan racun lain.

Racun-racun ini bisa meningkatkan risiko penyakit paru-paru dan penyakit kardiovaskuler lainnya.

Hal ini dikarenakan bahan kimia pada liquid vape yaitu propylene glycol dan vegetable glycerin. Ini disebut dapat meningkatkan dispnea (sesak nafas), sesak dada, dan mengi (wheezing).

Sementara itu, laporan dari UNC Chapel Hill, cairan dari vape ini dapat mengurangi kemampuan tubuh kamu untuk melawan infeksi di saluran pernafasan.

Laporan dari Harvard tahun 2017, ada penelitian pada 24 rasa liquid yang berbeda pada vape. Ditemukan di semua rasa tersebut mengandung aldehyde atau senyawa kimia yang termasuk dalam list FEMA high priority chemical atau yang dihimbau FDA.

Juga ada diacetyl, bahan kimia yang diketahui menyebabkan kekacauan pada sistem pernafasan.

3. Vaping juga berdampak buruk pada jantung

Kalau kebiasaan merokok konvensional masih ada ditambah dengan vape, maka itu semacam ‘double kill’ untuk tubuh kamu sendiri.

Penelitian dari Polandia mengatakan bahwa partikel acrolein, formaldehyde, dan ultrafine yang dibuat dalam memanaskan liquid, kemungkinan berkontribusi pada pengerasan dan penyempitan pembuluh darah.

4. Dapat mengurangi kecanduan nikotin

Nikotin saat kamu vaping memang cenderung lebih rendah. Namun, standarisasi kandungannya belum pasti sehingga sulit mengetahui berapa banyak nikotin yang ada pada masing-masing merk.

Dalam setiap hembusan asap dari vape ini, memberi sedikit nikotin pada paru-paru maupun otak, sehingga cukup membantu untuk menghilangkan kecanduan pada nikotin.

Sementara itu, penelitian pada tahun 2018 yang diterbitkan dalam Regulatory Toxicology and Farmacology, disebutkan bahwa merokok dengan vape selama dua tahun dapat mengurangi kecanduan seseorang pada rokok konvensional.

5. Kenyataannya, juga sama membuat seseorang kecanduan

Mungkin sekitar 85% pengguna vape mengaku bahwa mereka melakukan ini karena untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan merokok.

Namun studi tahun 2013 di empat negara berbeda yang dilansir American Journal of Preventive Medicine, mengatakan bahwa hal itu tidaklah terjadi. Dan mereka tetap menghisap rokok konvensional.

Karena tidak sedikit yang sulit lepas dari rokok konvensional dan masih menggunakan vape, sehingga konsumsi nikotin menjadi lebih banyak.

6. Berpotensi menyebabkan asma pada anak-anak dan remaja

Studi pada tahun 2017 yang diterbitkan dalam Currently Allergy and Asthma Reports, menemukan anak-anak dengan asma yang terkait dengan rokok elektronik atau vape.

Dua bahan utama dalam rokok elektrik ini, propylene glycol and vegetable glycerin, menghasilkan bahan kimia dari proses pemanasan. Yaitu akrolein, formaldehida, dan asetaldehida. Ketiga bahan kimia ini dikenal sangat berbahaya bagi pernafasan.

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menambahkan, baik itu rokok elektrik maupun rokok konvensional, keduanya dapat menghambat kesehatan serta meningkatkan risiko penyakut paru-paru obstruktif kronis (aliran udara tersumbat dan kesulitan bernapas) pada usia dewasa.

7. Dapat memperburuk bahaya rokok konvensional

Ada yang bilang bahwa memakai vape dapat mengurangi ketergantungan pada rokok biasa. Tapi tetap, sembari vaping juga masih menghisap rokok biasa.

Ini adalah pernyataan yang ngawur, karena sangat double dampak buruk pada kesehatan.

Kalau ini dilakukan, maka akan lebih banyak kadar nikotin, logam berat, bahkan karsinogen dalam urine, yang mana pada akhirnya ini dapat meningkatkan risiko kanker, kecanduan, dan segala penyakit paru-paru.

Dan bila ada perokok yang mengidap penyakit paru-paru, kemudian beralih ke vape, maka ini dapat memperburuk kesehatan, terutama jantung.

Dalam studi yang diterbitkan Journal of General Internal Medicine menyebut, bahwa hal itu dapat memperburuk penyakit seperti risiko mengalami serangan jantung tiga kali lebih banyak daripada perokok biasa.

8. Ada beberapa lain yang masih misteri

Rokok biasa mungkin telah banyak dipelajari selama puluhan tahun, sementara rokok elektrik masih beberapa tahun.

Tentu penelitian pada rokok elektrik masih membutuhkan waktu lagi untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak.

Jadi, bagaimana solusinya? Tentu saja mengurangi kebiasaan merokok biasa secara bertahap. Juga, tanpa harus beralih vaping untuk menguranginya. Salam sehat.

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes