Kematian Akibat Penyakit Jantung di India Meningkat Tajam

India akan mengalami lonjakan kematian akibat penyakit jantung, yang jauh melebihi dari China, dengan semakin banyaknya orang berusia muda menjadi korban. Menurut ahli, sebagian besar pasien penyakit jantung ini berasal dari selatan India.

Menurut ahli radiologi ternama Harsh Mahajan, pada tahun 2020 India akan memiliki lebih dari 4,77 juta kematian per tahun akibat penyakit kardiovaskular (CVD) dan 2,58 juta kematian akibat penyakit jantung koroner (PJK).

Di China, yang memiliki populasi terbesar di dunia sebanyak 1,34 miliar orang, akan memiliki 4,53 juta kematian akibat CVD dan 1,37 juta akibat penyakit jantung koroner pada tahun 2020. Angka-angka tersebut berasal dari Global Burden of Diseases Study yang dilakukan oleh WHO.

Sementara di kawasan India utara – termasuk Jammu dan Kashmir, Punjab dan Uttar Pradesh – memiliki persentase tinggi dari orang yang menderita penyakit jantung, dan di India Selatan, Kerala dan Tamil Nadu, memiliki prevalensi yang lebih tinggi dari penyakit jantung koroner.

“Di selatan India, banyak orang yang vegetarian. Tetapi, vegetarian bukan suatu jaminan. Bahkan, minyak kelapa juga bisa memicu penyakit jantung,” kata Mahajan di India International Centre, awal pekan lalu.

“Pada 2004, sebanyak 14 persen dari total kematian di India disebabkan oleh penyakit jantung dan persentase terus meningkat,” kata Mahajan, Presiden Indian Radiological and Imaging Association dan pendiri Mahajan Imaging Centre.

Berbeda dengan “pemikiran keliru” bahwa sakit jantung terjadi di sisi kiri dada, para ahli justru mengatakan bahwa sakit jantung itu terjadi di tengah-tengah dada, dan beberapa pasien juga bisa merasakan nyeri di siku, bahu dan rahang. Hal ini dapat disertai dengan sesak napas, pusing, dan bahkan berkeringat parah.

“Adalah penting untuk mengenali gejala-gejala, dan bertindak,” kata Mahajan.

“Saya tidak mengatakan kita harus cemas secara berlebihan, tetapi marilah kita tidak mengabaikan gejala-gejalanya. Jam pertama adalah ketika sebagian besar kematian terjadi. Kondisi ini mungkin sudah saatnya pergi ke dokter, bahkan jika itu ternyata hanya sebuah alarm palsu,” ujar Mahajan.

“Penderita diabetes tidak mendapatkan rasa sakit yang mengindikasikan serangan jantung datang, karena saraf mereka sudah dimatikan”, katanya. “Penderita diabetes mungkin tidak pernah merasakan nyeri dada sama sekali,” tambahnya.

Tanda-tanda lain yang harus diwaspadai adalah perasaan penyempitan dada dan ketidaknyamanan saat jogging atau berlari. “Ketika Anda merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya, jika Anda memiliki masalah saat aktif yang  dihilangkan dengan istirahat, Anda perlu menemui dokter. ”

Sementara penyakit jantung koroner disebabkan oleh penyempitan arteri karena penyumbatan, Mahajan mengatakan bahwa “60-70 persen dari pasien serangan jantung pasien tidak mengalami penyempitan arteri yang signifikan.”

“Hal ini umumnya terjadi pada pasien yang memiliki penyumbatan sekitar 30-40 persen dengan timbunan plak, yang paling rentan terhadap serangan jantung,” kata Mahajan.

Saat menyebutkan kemanjuran mekanisme dari tes, Mahajan mengatakan bahwa tesECG/ EKG (Elektrokardiografi) bisa memunculkan angina, sementara X-ray berguna dalam mendeteksi kelainan pada ukuran jantung.

Tes treadmill itu “bukan tes yang ampuh jika dilakukan dalam isolasi”, kata Mahajan.

Menurut ahli, mesin terbaik untuk tes adalah Dual Energy GSI Spectral CT Scanner, yang laboratoriumnya telah diperkenalkan di India dan yang pertama untuk melakukannya.

Ini adalah tes non-invasif, yang dapat melihat ke dalam jantung dan pembuluh darah, bahkan pada stent untuk melihat kondisi mereka dan dapat melihat timbunan plak. “Ini adalah alat penting. Setiap milimeter dari arteri dan segmen dapat dilihat, serta plak,” kata Mahajan.

Jepang adalah satu-satunya negara lain di Asia yang memiliki mesin yang sama, yang baru saja mendapatkan persetujuan dari FDA. Mesin ini menyediakan 128 gambar dari bagian dalam tubuh. Biaya melakukan tes ini sebesar 15.000 Rupee (atau setara Rp. 2,7 jutaan).

Penyakit kardiovaskular akan menjadi penyebab terbesar kematian dan cacat di India pada tahun 2020, yang sesuai dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pada 2030, diharapkan bahwa 23 juta orang akan meninggal akibat CVDs setiap tahunnya. (jay)

BACA JUGA : Cantik dengan Cokelat

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes