Pencegahan AIDS

Program Pencegahan AIDS Pada Anak

Dalam rangka Hari AIDS Sedunia (HAS) 2014 yang jatuh pada 1 Desember kemarin, Kementerian Kesehatan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) kini juga fokus menerapkan Program Pencegahan Penularan Ibu ke Anak (PPIA).

Pencegahan AIDS

Dari data yang dirilis, Balitbangkes telah merumuskan enam kebijakan untuk mencegah penularan virus HIV/ AIDS dari ibu ke anak. Yaitu antara lain:

1. Integrasi PPIA dalam melayani KIA

Yaitu dengan memberikan informasi PPIA pada semua perempuan yang datang ke pelayanan kesehatan. Petugas juga wajib menawarkan test HIV dan Sipilis kepada semua ibu hamil secara inklusif dengan pemeriksaan rutin, termasuk pasangannya. Selain itu, petugas melakukan koordinasi LP/LS termasuk LSM terkait pelayanan PPIA serta melakukan monitoring dan evaluasi secara berjenjang.

2. Kegiatan dilaksanakan secara komprehensif

Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduksi melalui prinsip ABCD (Absen seks, Bersikap saling setia, Cegah dengan kondom, Dilarang menggunakan Napza). Selain itu, perempuan yang ODHA tidak dianjurkan untuk hamil lagi dengan menggunakan alat kontrasepsi. Inti dari PPIA ini terdapat beberapa intervensi yang dilakukan, antara lain;

– Pelayanan antenatal terpadu (layanan tes dan konseling HIV, pemberian terapi anti retroviral, pencegahan, diagnosis, dan tata laksana infeksi menular seksual, malaria, dan tuberkulosa.
– Persalinan yang aman
– Pelayanan nifas serta pemberian makanan terbaik bagi bayi dan anak.

Selain itu, juga akan diberikan dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kepada ibu dengan HIV beserta bayi dan keluarganya. Seperti pemantauan terapi ARV, konseling, pemeriksaan kondisi kesehatan (CD4 & viral load), dan penyuluhan kepada anggota keluarga tentang cara penularan HIV.

3. Konseling dan Tes HIV

Tes dan konseling dalam PPIA dapat meliputi tes atas inisiatif petugas kesehatan (TKIP), konseling ARV, Kehamilan dan persalinan, pemberian makanan bayi, serta konseling psikologis dan sosial.

4. Terapi Anti Retrovirus (ART)

Terapi ini bertujuan untuk menurunkan kadar HIV serendah mungkin untuk mengurangi risiko penularan. Pelaksanaannya merujuk pada pedoman tata laksana dan terapi ARV pada orang dewasa. Terapi ini diberikan kepada semua perempuan HIV positif yang hamil, tanpa harus memeriksakan ART dilanjutkan seumur hidup.

5. Persalinan Aman

Pertolongan persalinan yang aman harus mengikuti prosedur kewaspadaan universal.

6. Pemberian makanan bayi

Manajemen laksatasi yang baik dilakukan untuk mencegah lecet dan radang pada payudara. Karena bila puting mengalami luka, ASI tidak boleh diberikan kepada anak. Asi eksklusif harus diberikan selama enam bulan, atau dapat dihentikan bila syarat dari WHO, AFASS (Acceptable, Feasible, Affordable, Sustainable, Safe) terpenuhi.

Agar virus tidak menular pada anak, maka deteksi dini harus mulai dilakukan dengan melakukan tes kepada ibu hamil untuk mengetahui status HIV-nya. Jika ibu hamil dan positif HIV, maka harus segera diberikan ARV tanpa melihat nilai CD4-nya. Selain melakukan pemeriksaan penuh pada ibu dan anak, pencegahan infeksi HIV AIDS juga dilakukan pada suami atau pasangannya karena lelaki juga berisiko tinggi. (ctr)

BACA JUGA: AIDS TELAH MEMBUNUH 39 JUTA ORANG

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes