“Stop Bullying” dengan 3 Langkah Ini!

Seperti yang kita ketahui, bullying itu berasal dari kata bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku.

Ancaman atau tekanan itu bisa bersifat fisik, verbal, ataupun non-verbal. Dan, perilaku bullying bisa terjadi dimana saja dan tidak memandang umur dan jenis kelamin.

Menurut psikolog dari Univeristas Indonesia, Roslina Verauli, ada tiga hal yang penting dilakukan sebagai pertolongan pertama untuk anak yang menjadi korban bullying.

“Yang pertama adalah ajari anak untuk ‘say no’ saat dia sedang di’bully’,” ujar Roslina seperti dikutip dari Antaranews.com. Dalam hal ini, anak harus bisa bersikap asertif atau belajar untuk mengungkapkan rasa tidak nyamannya.

Yang kedua, anak juga harus dibantu agar memililki teman. Karena menurut Roslina, anak yang memiliki teman tidak akan menjadi korban bullying.

“Anak yang rentan di’bully’ secara psikososial biasanya adalah penyendiri, anak itu juga biasanya tidak merasa aman dan nyaman sehingga tidak percaya diri sejak awal,” ujar Roslina.

Yang ketiga adalah cobalah untuk bantu anak memperbaiki konsep dirinya, dengan cara memberi pujian pada anak saat dia mencapai satu hal positif.

“Beri kegiatan untuk anak yang menunjang kompetensinya, apa yang dia suka, dan biarkan dia berkembang dan turut berkompetisi supaya harga dirinya ikut terangkat,” jelas Roslina.

“Dampak bullying memang tidak membuat anak menjadi trauma sosial secara langsung, namun bullying dalam waktu yang lama bisa menyebabkan anak mengalami gangguan emosional dan depresi,” imbuh Roslina.

Secara umum, ada 3 jenis bullying:

1. Fisik. Jenis ini menyerang langsung fisik si korban dengan meninggalkan luka, atau bekas lainnya. Contohnya memalak, memukul, menjewer, menampar, dsb.

2. Verbal.  Jenis ini memang tidak melukai fisik, tapi tetap saja menyakiti hati. Misalnya mengejek nama orang tua, mencemooh, meyindir kelemahan mental orang, dsb.

3. Psikologis. Tipe ini juga tidak kalah menyakitkan. Efeknya langsung menyerang batin si korban. Contohnya memfitnah, meyebarkan gosip, mempermalukan korban di depan umum, dan menolak si korban.

Dampak bagi korban bullying:

Hasil studi yang dilakukan National Youth Violence Prevention Resource Center Sanders (Amnesty 2009) menunjukkan bahwa bullying bisa membuat remaja merasa cemas dan ketakutan, mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah.

Bila bullying berlanjut dalam jangka waktu yang lama, dapat mempengaruhi self-esteem siswa, meningkatkan isolasi sosial, memunculkan perilaku menarik diri, menjadikan remaja rentan terhadap stress dan depresi, serta rasa tidak aman.

Dalam kasus yang lebih ekstrim, bullying dapat mengakibatkan remaja berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau melakukan bunuh diri (commited suicide). Perilaku bullying juga berdampak terhadap fisik korban. Dampak fisik seperti sakit kepala, sakit dada, cedera pada tubuh bahkan kematian. (jay)

BACA JUGA : Hati-hati! Kosmetik Bisa Memicu Menopause Dini

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes