Waspada, Steroid Juga Bisa Membunuh Anda!

Siapa yang sangka keinginan memiliki tubuh atletis membawa seorang pria menuju akhir hidupnya. Seperti dikutip Zeenews.com, pria bernama Dev Luthra diketahui mengidam-idamkan perut six-pack sempurna sebelum pernikahannya. Karena overdosis steroid, Luthra mengalami pembengkakan otak dalam waktu singkat. Beberapa bulan kemudian, sekretaris sebuah perusahaan di India itu pun ditemukan tewas.

Menurut para ahli, kejadian yang menimpa Luthra ini memiliki landasan dari rasa keinginan untuk menarik perhatian lawan jenis. “Memiliki tubuh berotot saat ini memang menjadi trend di kalangan pemuda dan karena hal itu, jumlah pemuda yang mengonsumsi suplemen sedang meningkat,” kata Rommel Tickoo, konsultan senior (Internal Medicine) di Max Hospital.

Menurut Tickoo, steroid anabolik tidak dimaksudkan untuk pembentukan tubuh karena penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan bisa mempengaruhi hati dan ginjal, serta bisa menyebabkan bahaya serius lainnya.

Agreed V.M. Katoch, Direktur Jenderal Dewan Penelitian Medis India (ICMR): “Menggunakan steroid untuk pembentukan otot tidak hanya salah, tetapi juga ilegal.”

Tak hanya itu, saat ini bisnis tempat gym juga sedang booming di berbagai negara, termasuk di India. Hal itu mendorong sejumlah tempat gym menyediakan pasokan steroid untuk para member.

Sebuah gym populer di kawasan barat New Delhi juga diketahui menjual steroid, yang satu kotak untuk tiga minggu dijual seharga Rs.5.000 (atau Rp 859 ribuan) yang diklaim bisa membakar lemak dan mengubahnya menjadi otot dalam waktu satu bulan.

Sementara, sebuah gym di selatan Delhi juga menyarankan mengonsumsi minuman shake yang akan meningkatkan stamina, sehingga bisa melakukan sesi latihan lebih lama. Hal ini pun menimbulkan pertanyaan dan dianggap sebuah saran yang menggelikan.

Namun, trainer gym tingkat nasional Joginder Singh Saluja, yang juga memiliki sebuah gym di New Delhi, mengatakan bahwa dalam beberapa kasus terutama yang melibatkan remaja, steroid memang diberikan oleh pelatih, lengkap dengan suplemen kesehatan.

“Suplemen kesehatan memiliki manfaat bagi tubuh tapi steroid menghasilkan hasil yang dramatis. Jadi, suplemen palsu dicampur dengan steroid dipromosikan,” kata Saluja wartawan. “Harga suplemen protein berkualitas baik dibanderol seharga Rs 3.000 sampai Rs 4.000 (Rp 500 ribu- Rp 687 ribu) untuk 2,5 kilo,” tambahnya.

Alumnus Khalsa College, Saluja, meski seorang penderita polio, ia sudah lebih dari satu dekade berolahraga di gym dengan perawatan khusus. “Penggunaan suplemen berbahaya memang dipromosikan karena punya keuntungan besar, bahkan melebihi dari biaya gym,” kata Saluja.

Tersedia dalam serbuk, pil dan suntikan, para ahli mengemukakan bahwa penyalahgunaan steroid merupakan lingkaran setan untuk orang yang memanjakan diri hingga tidak pernah bisa berhenti dan karena tidak merugikan tubuhnya.

“Setelah otot mulai terbentuk, tidak akan ada jalan untuk mengembalikan seperti semula. Orang-orang dengan mudah menjadi tergantung pada steroid karena mereka takut kehilangan fisik yang mereka inginkan,” kata Saluja, dan menambahkan bahwa gejala putus obat mencakup perubahan suasana hati, depresi, insomnia dan kelelahan.

Kejadian ini juga dialami Saif Miraj (22), yang bercita-cita menjadi model beberapa tahun lalu. Namun, mimpinya hancur ketika kelebihan steroid yang merusak ginjal dan hati.

“Saya hanya tidak ingin berhenti. Saya cinta otot dan tubuh saya…. Itu obsesi saya, dan pada saat saya menyadari kerusakan terjadi, saya sudah terlambat,” katanya.

Solusinya, para dokter menyarankan untuk segera menyebarkan kesadaran mengenai isu tersebut agar tidak banyak yang menderita karena penyalahgunaan steroid di masa mendatang. “Kami tidak begitu tahu tentang kasus-kasus tersebut. Hal ini sebenarnya sering terjadi, tetapi orang tidak ingin mengakuinya,” kata Tickoo.

Hal ini dikuatkan oleh registrar Girish Tyagi dari Delhi Medical Council (DMC) yang mengatakan kepada wartawan bahwa tidak ada laporan tentang kasus ini. Saluja mengatakan, hal ini dianggap memalukan bagi banyak orang untuk mengakui bahwa steroid bisa merusak ginjal atau hati karena mereka ingin tubuh berotot.

Steroid, juga dikenal sebagai kortisol, berbeda dengan steroid anabolik yang digunakan oleh atlet dan binaragawan. Steroid ini biasanya digunakan untuk mengobati pasien kanker, orang dengan radang sendi, luka bakar parah, anemia, pubertas tertunda dan sejenisnya. Efek samping steroid anabolik termasuk kerusakan hati dan ginjal, dan dalam beberapa kasus bisa terkenapembengkakan otak.

Jadi, mulai sekarang sebaiknya Anda berhati-hati dalam menggunkan steroid demi kesehatan Anda. Be careful! (jay)

BACA JUGA : Siapa Bilang Orang Kurus Bebas Penyakit Jantung?

Gratis Konsultasi Fitnes dan Produk Fitnes